10 Alasan Mengapa Penting Memotret dengan format RAW

RAW

RAW adalah format file yang menyimpan semua mentahan informasi dari gambar yang ditangkap kamera. Raw berarti mentah, karena memang file atau Format RAW tersebut belum diproses dan belum siap dicetak ke printer.

Karena masih berupa mentahan dan belum dikompresi, kita bisa mendapatkan foto dengan kualitas maksimal sekaligus kemudahan mengolah dan memperbaiki permasalahan pada foto tersebut.

Hasil foto dalam format RAW bisa dipilih dari pengaturan kamera sebelum memotret. Lalu, kenapa harus RAW? Berikut 10 Alasan mengapa harus memotret dengan format RAW:

1. Mendapatkan Kualitas Tertinggi
Format RAW
Pixabay | Mendapatkan Kualitas Tertinggi

Ketika memotret dengan Format RAW, kita merekam seluruh data informasi dari sensor kamera. Data mentahan ini kemudian direkam menjadi file yang berkualitas tertinggi. Mungkin Anda akan berpikir; berarti semua kamera sebenarnya memotret dengan format RAW? Ya, benar. Namun pada saat kita memotret dengan JPEG, adalah kamera yang memproses dan mengkonversi data RAW tadi menjadi JPEG.

Namun karena kamera tidak secerdas otak kita, juga tidak sehebat komputer. Ketika memotret dengan RAW, kita bisa melakukan pengolahan lebih lanjut dan menentukan sendiri seperti apa nantinya foto kita. Tentunya dengan kualitas yang jauh lebih baik.

2. Merekam Lebih Banyak Tingkat Kecerahan

Tingkat kecerahan adalah jumlah tingkat warna dari hitam sampai ke putih dalam sebuah foto. Semakin banyak jumlahnya – semakin halus gradasi tone-nya.

JPEG memiliki 256 tingkat kecerahan, dan RAW merekam antara 4.096 hingga 16.384 tingkat. Ini dijelaskan dengan istilah ‘bit’. JPEG memotret dalam 8 bit, sedangkan RAW lebih dari itu, 12 hingga 16 bit.

Pengaruhnya terhadap foto sangat besar. Banyaknya tingkat kecerahan itu memudahkan kita membuat lebih banyak penyesuaian (exposure, highlight, shadow, black, white, fill light, contrast, brightness, recovery, dll) terhadap foto kita tanpa mengurangi kualitas. Ini karena ada lebih banyak tingkat kecerahan yang dapat diolah.

3. Mudahnya Mengoreksi Foto yang Under/Over secara Dramatis

Tentunya kita selalu menginginkan exposure yang terbaik dari kamera. Namun terkadang sesuatu berlalu begitu cepat (khususnya saat motret wedding) dan ternyata kita benar-benar mendapatkan foto-foto yang under atau over-exposure.

Beruntung kita memotret dengan FRAW, kita masih punya informasi tambahan di dalam file. Maka kita akan lebih mudah memperbaiki foto-foto itu tanpa penurunan kualitas yang drastis.  Kita juga bisa memulihkan highlight dan shadow yang berlebihan.

4. Mudahnya Menyesuaikan White Balance

Ketika memotret dengan JPEG, White Balance sudah menempel langsung pada fotonya. Jadi sulit bagi kita untuk mengubah ke pilihan lainnya. Dengan RAW, White Balance-nya masih tersimpan di dalam data mentahan itu, dan kita akan lebih mudah mengolahnya.

WB dan warna sangat penting dalam menghasilkan foto yang menakjubkan. Memotret dengan RAW memudahkan kita melakukan penyesuaian secara lebih mudah dan cepat, tentunya dengan hasil yang lebih baik.

5. Format RAW Mendapatkan Detail yang Lebih Baik

Saat memotret dengan RAW, kita memiliki akses untuk mempertajam (sharpening) dan mengolah algoritma noise dengan software seperti Lihgtroom yang mana lebih powerful dibandingkan hasil jepretan langsung dari kamera.

Sharpening dan algoritma noise (pada program seperti Lightroom) akan selalu berkembang lebih baik. Maka di masa depan, kita bisa membuka kembali file RAW tersebut dan mengolahnya dengan perkembangan teknologi terkini.

6. Mengolah Tanpa Merusak

Ketika mengolah sebuah file RAW, kita sebenarnya tidak melakukan apapun terhadap data file aslinya. Yang kita lakukan adalah menciptakan serangkaian perintah tentang seperti apa versi JPEG-nya akan disimpan.

Hebatnya adalah; kita tidak perlu khawatir akan merusak foto, tertimpa saat menyimpan, atau tidak bisa kembali dan melakukan perubahan. Kapanpun kita bisa mereset penyesuaian tersebut dan mulai lagi dari awal.

File JPEG akan kehilangan kualitas saat setiap kali kita membuka, mengedit dan menyimpannya. Ini dikenal dengan istilah format file ‘lossy’. Jadi jika kita mengedit file JPEG, kita harus menggandakan foto tersebut kemudian menyimpannya dengan versi baru. Jika tidak, kita akan kehilangan kualitas file-nya.

7. Hasil Cetak yang Lebih Bagus
Format RAW
Pixabay | Hasil Cetak yang Lebih Bagus

Hasil cetakan foto yang berasal dari file RAW akan jauh lebih baik karena gradasi tone dan warna yang halus. Mencetak foto dalam ukuran besar (baliho) juga salah satu alasan orang memotret dengan format RAW.

Kita juga bisa mengurangi color banding, yang kelihatan kurang bagus pada hasil cetak.

8. Pilihan Color Space untuk Output

Saat memotret dengan JPEG, kita hanya bisa memilih salah satu color space dari dua yang disediakan kamera; sRGB atau Adobe RGB. Tapi dengan RAW, kita bisa mengekspornya menjadi JPEG dengan color space yang berbeda.

Jika kita hanya akan memajang foto di web, maka kita menggunakan output sRGB sebagai color space-nya. Jika kita akan memberikan file JPEG kepada client untuk dicetak, kita gunakan Adobe RGB. Atau kita ingin color space yang lebih luas lagi, gunakan ProPhoto RGB.

Intinya, color space berbeda akan efektif untuk situasi yang berbeda. Dan file RAW bisa diekspor menjadi file JPEG dengan berbagai color space sesuai kebutuhan.

9. Alur Kerja yang Lebih Efisien

File RAW bisa diedit secara masal di Lightroom dengan cara sinkronisasi ataupun preset. Beberapa file juga bisa diekspor sekaligus. Ini membuat alur kerja kita menjadi lebih efisien dibandingkan dengan membuka dan mengeditnya satu per satu di Photoshop.

10. Pilihan para Profesional

Para fotografer profesional harus menyajikan foto yang paling berkualitas bagi client-nya. Mereka memotret dengan RAW karena tidak ingin repot dengan masalah White Balance, Color Space dan Printing. Oleh karena itu, memotret dengan RAW adalah pilihan para fotografer Pro.

Kekurangan dan Solusinya

Akan selalu ada kelebihan dan kekurangan dalam setiap pilihan. Dan memotret dengan RAW punya beberapa kekurangan. Ini akan kita bahas berikut solusinya:

  • Perlu diproses dulu. Memang. File RAW perlu diekspor dulu agar menjadi JPEG. Jika kita merasa tidak perlu mengolah highlight, shadow, white balance, dan sebagainya, kita bisa langsung mengekspornya ke JPEG dan itu bisa dilakukan secara masal, dengan ukuran tertentu, selektif dan tidak lama. Alternatif lainnya adalah; jika kita punya cukup kartu memori, setting kamera agar menghasilkan file RAW+JPEG.
  • Memerlukan Ruang Penyimpanan Lebih. Karena file RAW berisi mentahan data, maka ukurannya memang cukup besar. Tapi saat ini harddisk eksternal 1TB sudah cukup untuk menyimpan file RAW 20MP dalam setahun. Tips lainnya; hapus file-file RAW yang tidak perlu dari harddisk Anda. Saya sendiri memakai cara meng-convert RAW menjadi file DNG yang ukurannya sedikit lebih kecil namun tetap bisa diolah layaknya file RAW.
  • Memperlambat kamera. Karena ukuran file RAW yang besar, kamera butuh waktu lebih untuk merekam ke kartu memori. Jika memotret cepat dan beruntun memang jadi kebutuhan Anda, coba gunakan kartu memori yang memiliki daya rekam lebih cepat. Atau sekalian beli kamera mahal yang memiliki buffer yang lebih besar.
  • Beda merk – beda ekstensi. Beberapa merk kamera memiliki ekstensi file RAW yang berbeda, misalnya Canon yang memiliki file RAW berekstensi CR2 dan Nikon yang memiliki file RAW berekstensi NEF. Bahkan file NEF dari tipe kamera Nikon terbaru kadang tidak bisa dibaca oleh program Lightroom versi lawas. Caranya; update selalu program Lightroom Anda. Adobe kini memperkenalkan format RAW berekstensi DNG yang diharapkan bisa menyeragamkan file RAW dari berbagai merk di masa depan.

Bagaimanapun, memotret dengan RAW memiliki manfaat lebih banyak, yaitu dari segi kualitas dan pengolahan. Sudahkan Anda memotret dengan RAW?

Sebagian dari artikel ini disadur dari : http://photographyconcentrate.com

 

Tinggalkan Balasan